Di artikel-artikel sebelumnya, sering banget disebut yang namanya touchpoint, dan pernah disinggung juga kalau pada intinya campaign touchpoint adalah channel yang bisa dipergunakan sebuah brand untuk menyampaikan campaign message nya ke konsumen. Apa aja jenis dari campaign touchpoint? Apa fungsi dari masing-masingnya? Touchpoint mana yang harus kita pakai? Mari kita bahas.

Klasifikasi besar dari campaign touchpoint itu terbagi tiga: ATL (Above the Line), BTL (Below the Line), dan TTL (Through the Line). Dan pemilihan touchpoint yang tepat akan menentukan efektifitas dan efisiensi campaign kita.

Familiar banget kan sama ketiga istilah diatas? Tapi ada apa aja dibalik ketiga istilah itu? Ada touchpoint detail apa di masing-masing klasifikasinya?

  • Above the Line (ATL): ini adalah klasifikasi untuk touchpoint yang bisa menyampaikan campaign message ke skala audience yang besar (mass reach), misalnya : TV ads, Digital Ads, dll. Sesuai dengan pengertian diatas, touchpoint ini bisa menyampaikan pesan brand ke jauh lebih banyak orang, tapi bukan berarti ini yang terbaik, karena artinya penyampaian pesan lewat touchpoint ini pasti low engagement yang pada akhirnya mungkin akan kasih level of understanding yang rendah dari audience nya.
  • Below the Line (BTL): ini adalah klasifikasi untuk touchpoint on-ground, level of engagement biasanya lebih tinggi, tapi hanya bisa menyampaikan pesan ke jumlah yang terbatas, hanya mereka yang ada disekitaran touchpoint ini aja. Contohnya : event, regular SPG (keliling), point of sales material, dll.
  • Through the Line (TTL): ini adalah klasifikasi untuk aktivitas yang menggabungkan ATL & BTL, misalnya sebuah activation yang based nya digital tapi ada event on-ground nya juga, atau melibatkan aktivitas offline. Kelebihannya reach bisa besar, dan consumer understanding tetap dipastikan lewat aktivitas offline, tapi biasanya butuh budget yang lebih besar, dan secara eksekusi pun lebih complicated dibandingkan sekedar placement ATL & BTL. Plus, untuk TTL yang efektif kita butuh partisipasi konsumen, which ada resiko ketika ga ada konsumen yang mau ikut investasi kita bisa terbuang percuma.

Dalam menyampaikan komunikasi ke konsumen ada yang namanya repetisi, atau seberapa sering konsumen akan melihat materi komunikasi kita. Nah, biasanya ATL dipakai untuk repetisi awal ketika campaign baru launching, yang penting konsumen tau dulu kalau ada campaign kita. BTL akan dijalankan bersamaan biar peluang konsumen ngerti message kita jadi lebih tinggi (di repetisi menengah), dan TTL akan dilakukan kemudian untuk meyakinkan consumer understanding dan building brand equity dengan juga melibatkan experience mereka. Jadi, setiap klasifikasi touchpoint ada kelebihan dan kekurangannya, dan baiknya kita ga pilih salah satu atau salah dua, tapi meramu semuanya dengan kadar yang tepat untuk hasil maksimal.

Terus gimana cara ngeramu nya? Touchpoint ATL apa yang harus dipake? BTL nya apa? TTL nya apa biar hasil maksimal? Ada teori nya kah? Sebenernya ga ada teori nya, tapi gw ada konsep yang sampai sekarang masih gw percaya ini efektif. Tunggu di artikel berikutnya ya !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s