Sesuai dengan pembahasan di artikel sebelumnya, di kategori ini kita akan bahas digital dalam konteks role nya sebagai Equity Builder. Nah, terkait hal ini, kayanya udah banyak banget yang ngerti tentang canggihnya digital platform untuk membangun equity sebuah brand, buktinya apa? Banyak banget brand yang udah aktif di hampir semua platform digital, ga cuma Website, tapi juga semua platform social media; mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, platform chat kaya Line, atau bahkan Friendster kalo masih ada.. hahaha.

Pertanyaannya, brand-brand ini aktif di banyak platform tersebut karena memang ngerti konsepnya dan melihat peluang disana? Atau hanya karbitan aja ngikut liat brand lain bikin akun jadi ikutan bikin juga? Sebenernya jawaban ini bisa keliatan dari cara mereka mengolah akun-akun tersebut. Coba aja cek akun-akunnya, kalo di setiap akun kontennya sama persis, cuma disebar ke banyak channel aja, berarti masuknya ke kelompok karbitan yang bikin banyak akun biar ga keliatan tertinggal doang.

Emang harusnya berapa banyak digital channel sih yang dipake? Terus gimana cara ngolah yang bener biar ga dibilang karbitan?

Sejujurnya, sepengetahuan gw, ga ada teori atau aturan khusus yang bilang berapa jumlah tepat platform social media yang harus dipake. Tapi dari gw pribadi, biasanya lebih liat ke jumlah optimal aja, caranya gimana? Pertama, tentuin dulu objective dari kita optimize digital itu untuk apa. Kedua, breakdown untuk achieve objective itu kita perlu ngapain aja. Terakhir, kita mapping platform mana yang cover masing-masing turunan objective. Kalau sampe ada dua digital atau social media platform yang dirasa role nya sama, ya pilih salah satu aja, jangan sampai duplikasi, selain terkesan karbitan, cape juga nanti manage nya. Hehe.

Oiya, diluar teori diatas, menurut gw ada satu platform yang sifatnya wajib punya, yaitu Website! Kenapa wajib? Karena menurut gw website adalah rumah dari sebuah brand, yang mana semua informasi penting dari brand tersebut ada disitu, sedangkan social media adalah channel-channel yang bisa bawa audience mampir ke website kita nantinya. Kenapa informasi harus dikumpulin di website? Pertama, karena beberapa platform social media ga begitu friendly buat penyimpanan data, ga masalah kapasitas doang, tapi interface nya pun kadang kurang nyaman untuk penyimpanan informasi, mungkin karena emang konsep awalnya untuk bersosialisasi. Kedua, tujuan audience di social media ya biasanya untuk bersosialisasi, jangan sampe mereka kabur dari channel kita karena dicekokin terus informasi lengkap yang lumayan panjang.

Analogi yang biasa gw pakai untuk menjelaskan hal diatas adalah seorang anak kecil yang baru masuk SMP. Pastinya dia pengen temen-temennya tau semua prestasi dia waktu SD, tapi kalo dia ngotot jelasin itu semua di obrolan sekolah (social media) pasti temen-temennya males juga ngobrol sama dia. Tapi kalo dia buat temen-temennya nyaman sama dia, tertarik untuk tau lebih banyak, dia bisa undang temen-temennya ke rumah (website), dan disana temen-temennya bisa liat sendiri piala-piala dia yang dipajang di dinding (means, info penting harus jelas terlihat di website, jangan tersembunyi..).

Nah, setelah kita menentukan channel mana aja yang akan kita pake, berikutnya kita harus setup strategi pengolahannya. Website jelas untuk rumah dari semua informasi, kalau social media gimana?

Kalau diperhatikan, setiap social media itu punya konsep yang berbeda. Misal, Instagram yang basisnya visual, nyaman untuk berbagi sesuatu yang di visualisasikan menjadi sebuah gambar menarik. Berbeda dengan Twitter, yang menurut gw konsepnya adalah berbagi pemikiran lewat kalimat singkat, tapi jelas inti dari pemikirannya (bagus nih buat latihan elevator talk). Begitu juga dengan social media lain, karena konsepnya berbeda, si brand juga harus menyesuaikan tipe kontennya dengan masing-masing konsep. Dengan pemikiran ini, harusnya ga ada tuh satu gambar atau video yang diposting di semua channel social media, apalagi dengan caption yang sama juga.

Setelah setup jenis konten untuk masing-masing channel yang kita pakai, berikutnya tinggal dipikirin gimana caranya audience di masing-masing channel itu mau mampir kerumah, biar kenal brand kita lebih dalam lagi.

Semogra bermanfaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s